Sekolah di salah satu SMA swasta tak pernah
terlintas dipikiranku. Entah apa yang terlintas di pikiran kedua orang tuaku. SMA
yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama sama sekali tak cocok dengan
keseharianku yang terbiasa hidup bebas dan tak mau dikekang. Walau kedua orang
tuaku memberi nama Arman M. Elsori, sama sekali tak mencerminkan aku sebagai
sosok yang religius.
Siang itu saat matahari tengah menuju ufuk barat
adalah saat dimana aku segera pulang, karena aku sudah gak betah berlama-lama
di sekolah tersebut. Ketika aku mau mengambil motor di parkiran yang seperti
gurun pasir. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang cewek memanggil aku. “
Armaaan!!!”, teriak Nana. Aku pun terkejut, ada apa ya? Jawabku dalam hati..
Nana menghampiriku bersama temannya, “Man, ini lho temenku anterin pulang ya?
Rumahnya tuh searah ama kamu, biar aku gak bolak-balik gitu”.
“Dimana lho rumahnya?”
“Di daerah Rungkut. Oya...kenalan dulu lho Man...”
Sahut Nana.
“Arman” sambil ku arahkan tanganku kepadanya dan
menunggu untuk berjabat tangan.
“Mentari, panggil aja Tari” sahut Tari dengan
senyum yang manis dan memegang jemariku tuk berjabat tangan.
“Gak apa nih aku bareng kamu Man? Ntar cewek kamu
marah sama aku?” kata Tari dengan nada sedikit merayu.
“Gak apa kok, aku gak punya cewek kok.
Jangan-jangan malah cowokmu yang marah ma aku ntar?” Jawabku sambil bercanda.
Tak lama setelah itu, Tari pun segera duduk di
motorku. Aku pun merasa sedikit rikuh ketika harus berboncengan dengan Tari,
entah apa yang membuatku merasa demikian. Selama perjalanan kita mengobrol
tentang keseharian kita. Tak terasa sampai juga di rumah Tari, dengan berbagai
arahan dari Tari hingga sampai juga tepat di depan rumah Tari. Hari pertama
bersama Tari pun berakhir dengan biasa saja, walau aku sedikit merasa rikuh dan
entah bagaimana perasaan Tari saat itu.
Esoknya, pagi hari dan membosankan kembali
kujalani di SMA yang tak pernah kuinginkan sebelumnya. Namun hari ini terasa
berbeda ketika Tari mulai menyapaku ketika jam istirahat. “Man, ayo kita ke
kantin. Temenin aku ya? Gak apa kan?”
“Hmm, ayo. Kebetulan aku juga mau sarapan.”
Jawabku dengan sedikit nervous.
Selama perjalanan menuju kantin, kita hanya saling
terdiam. Sesampai di kantin, kita hanya duduk berdua. Sembari menunggu pesanan
datang Tari mulai mengajak ngobrol “Man, aku nomer HP kamu dong?”
“Waduh, jangan diminta Tar, ntar aku beli nomer HP
baru donk?” jawabku dengan nada bercanda.
“Hahahaha... Bisa aja kamu Man, serius nih. Biar
mudah aja kalau aku pengen nebeng kamu. Gak apa kan?” Kata Tari dengan nada
merayu.
“Ini pesanannya” Kata pelayan kantin sambil
meletakkan makanan dan minuman kita diatas meja tempat kami duduk.
“Man, ayo buruan kasih aku nomer HP kamu.” Tari
sedikit memaksa kepadaku.
“Iya iya, buruan catet Tar. 089645504439, tuh
buruan SMS ke nomerku, biar aku juga tau nomermu Tar.” Sambil ku teguk es teh
yang telah ku pesan tadi.
Perasaan mulai tak karuan, gara-gara aku
menganggap ada yang berbeda dengan perilaku Tari padaku jika dibanding
cewek-cewek lainnya.
“Udah masukkan SMS ku Man? Tanya Tari sambari
memakan makanan yang ia pesan tadi.
Selagi asyik makan berdua dan mengobrol, tak
terasa bel masuk berbunyi. Aku dan Tari pun harus berpisah sejenak. Kita
berbeda kelas, jadi tidak mungkin akan seharian bersama dia di Sekolah. Hari
yang membosankanpun dimulai lagi didalam kelas berukuran 8 meter kali 7 meter.
Ruang kelas ber-AC nampak nyaman sekali, namun tidak dengan hatiku yang
tiba-tiba gundah karena selalu terbayang-bayang sosok Tari. Tiba-tiba HP ku
bergetar. Memang biasanya aku sering mainan HP kalau lagi bosan didalam kelas.
Namun tak kusangka, ternyata Tari yang SMS “Man, aku bosen nih dikelas, gurunya
gak asyik. Jam segini udah dongengin tentang Sejarah Majapahit”. Aku kaget dan
tak menyangka ternyata Tari berani SMS aku duluan. Tak mau lama-lama, aku
langsung membalas SMS Tari “Iya Tar, aku juga bosan ini. Ke kantin yuk Tar?”.
Tak lama kemudian tari membalas SMS ku “OK, buruan ya?? Uda bosen tingkat
tinggi nih aku Man!!! Nih aku barusan uda ijin keluar ke UKS”. Aku pun langsung
berpura-pura sakit perut dan minta ijin pada guruku. “Pak saya sakit perut, mau
ijin ke kamar mandi dulu ya pak?” Sambil aku berakting sakit perut dan
mengerang kesakitan laksana artis papan atas. Akhirnya guruku pun percaya dan
malah menyarankan ke UKS saja.
“Tari I’m
Coming” teriakku dalam hati dengan gembira karena mampu kabur dari situasi
kelas yang membosankan. Selepas dari ruangan yang nyaman aku pun bergegas
menuju kantin dimana Tari pasti telah menungguku.
“Armaaan!!!” Teriak Tari yang memanggil namaku sambil
melambaikan tangannya.
Tanpa menjawab, aku langsung mendatangi Tari dan
duduk ditempat yang Tari tempati.
Kami pun mengobrol dan bersenda gurau melepas
kebosanan yang kita rasakan di kelas masing-masing. Kata terakhir yang
diucapakan Tari sebelum kembali masuk ke dalam kelas jam terakhir “Man, ntar
aku nebeng lagi gak apa kan?”.
“Iya gak apa kok Tar” Jawabku dengan senang hati.
Sehabis jam pelajaran terakhir, aku segera
bergegas menuju parkiran motor. Lama ku menunggu Tari hingga akhirnya terbitlah
Sang Mentari yang menyanari hari-hariku beberapa hari ini. “Man, udah lama ya?”
Tari bertanya dengan nafas yang terengah-engah. “Enggak kok Tar. Udah biasa
menunggu kok” Jawabku dengan ketus.
Selama perjalanan kali ini, kita lebih banyak
ngobrol tentang kepribadian kita masing-masing. Hal ini menjadi lampu hijau
bagiku bahwa Tari memang benar-benar tertarik padaku walaupun aku tidak masuk
dalam kategori cowok keren. Bayangin aja, wajahku saja tak setampan Andy Lau,
dan badanku juga tak sekekar aktor yang bermain dalam film Rambo. Perawakanku
malah mirip gentong. Namun satu hal yang kuyakini seperti kata Endank Soekamti.
“Perut
gendut tiada masalah
Tetap
PD (sexy, banyak temannya) sudah biasa
Ku
tak mau menyiksa diri
Olahraga
takkan berguna”
Kurang lebih begitulah sepenggal lirik lagu Endank
Soekamti yang berjudul Pejantan Tambun.
Sesampai di depan rumah Tari, aku berniat langsung
pulang. Tiba-tiba Tari berkata, “Man, masuk dulu sini lho. Jangan pulang dulu
ya?”
“Gak apa ta? Yaudah deh” Jawabku, sambil memarkirkan
motorku didepan garasi.
Sambil menunggu Tari ganti baju aku duduk diteras
rumahnya. Tiba-tiba dia keluar membawa dua gelas minuman segar yang sudah
kutunggu-tunggu mengingat panasnya kota ini. “Man, nih ku buatin minuman. Pasti
kamu haus kan??” Tanya Tari sambil menaruh kedua gelas minuman di meja yang ada
diteras rumahnya.
“Hehehehe, tau aja kamu Tar... Perhatian banget
sih.” Jawabku sambil bercanda.
Setelah meneguk minuman, Tari menarik tanganku dan
mengajak masuk ke dalam ruang tamu. Aku bingung dan sedikit malu ketika harus
masuk rumah. “Eh... Tar diluar aja, disini gerah.” Sambil ku coba melepas
genggaman tangan Tari. “Udah gak apa Man, disini aja lebih nyaman.”
“Fine, gak
apa deh emang lebih enak di ruang tamu soalnya gak panas”, hatiku berbicara. Di
dalam ruang tamu kita ngobrolin kekonyolan di sekolah hingga masalah – masalah
yang lebih pribadi.
“Aku bosan Man, terus-terusan ditinggalin cowokku.
Dia sekarang sekolah di luar kota.” Kata Tari padaku dengan nada yang sangat
sedih dan bingung harus berekspresi seperti apa.
Dengan muka bodoh dan kaget ternyata Tari sudah
punya pacar. “ Namanaya juga pacaran, ya harus sabar dong Tar.“ Kujawab saja
seakan aku tak menaruh rasa apa-apa pada Tari. Tari hanya bisa bilang “Iya sih Man, tapi....”
Perbincangan itu membuat suasana sekejap menjadi
hening. Tari hanya bisa memandangku yang sudah mencoba memberi pengertian
padanya. Aku berpikir, “apa aku salah bicara? Oh, jelas gak lah.” Tiba-tiba
bibir manis Tari menempel di bibirku yang kering, karena memang pada siang itu
suhu udaranya seakan mirip suhu udara di Gurun Sahara. Aku cuma bisa diam dan
tak berdaya karena detak jantungku meningkat karena ciuman Tari yang tanpa
permisi mendarat di bibirku.
Kemudian tari menarik dari dan ciuman yang telah
mendarat tadi dan berkata “Kenapa? Aku salah ya? Maaf deh gak begitu lagi.”
“Oh...gak apa kog Tar” Jawabku dengan kaki gemetar
karena kaget dan masih gak percaya tentang apa yang Tari lakukan. “Ya gak apa
Tar, gak ada yang salah kok, nanggung kalo cuma bentar” Ucapku dalam hati yang
mulai senang dengan semua ini.
Tanpa keterpaksaan seperti diawal, dan kali ini
Tari permisi dulu sebelum mendaratkan bibir manisnya. Aku pun tak mau hanya
berdiam dan berlagak pasif seperti cewek yang pasrah ketika diperkosa sekelompok
pemuda. Aku mulai mengerahkan kemampuanku, walau mungkin dalam hal cium-mencium
aku masih kalah garang dibanding Tari yang tanpa kusadari dia berapa diatas
pangkuanku. Kami pun larut dalam suasana cumbu di Gurun Sahara.
“krieeeeeeeek” Suara pintu terbuka. Tiba-tiba
pintu terbuka dan ibu Tari keluar dari kamar. Gerak cepat menuju posisi semula
dan seakan – akan kita tak sedang melakukan apapun.
#BERSAMBUNG#