Senin, 27 Januari 2014

Victim of Women #part 1



Sekolah di salah satu SMA swasta tak pernah terlintas dipikiranku. Entah apa yang terlintas di pikiran kedua orang tuaku. SMA yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama sama sekali tak cocok dengan keseharianku yang terbiasa hidup bebas dan tak mau dikekang. Walau kedua orang tuaku memberi nama Arman M. Elsori, sama sekali tak mencerminkan aku sebagai sosok yang religius.

Siang itu saat matahari tengah menuju ufuk barat adalah saat dimana aku segera pulang, karena aku sudah gak betah berlama-lama di sekolah tersebut. Ketika aku mau mengambil motor di parkiran yang seperti gurun pasir. Tiba-tiba terdengar teriakan seorang cewek memanggil aku. “ Armaaan!!!”, teriak Nana. Aku pun terkejut, ada apa ya? Jawabku dalam hati.. Nana menghampiriku bersama temannya, “Man, ini lho temenku anterin pulang ya? Rumahnya tuh searah ama kamu, biar aku gak bolak-balik gitu”.
“Dimana lho rumahnya?”
“Di daerah Rungkut. Oya...kenalan dulu lho Man...” Sahut Nana.
“Arman” sambil ku arahkan tanganku kepadanya dan menunggu untuk berjabat tangan.
“Mentari, panggil aja Tari” sahut Tari dengan senyum yang manis dan memegang jemariku tuk berjabat tangan.
“Gak apa nih aku bareng kamu Man? Ntar cewek kamu marah sama aku?” kata Tari dengan nada sedikit merayu.
“Gak apa kok, aku gak punya cewek kok. Jangan-jangan malah cowokmu yang marah ma aku ntar?” Jawabku sambil bercanda.

Tak lama setelah itu, Tari pun segera duduk di motorku. Aku pun merasa sedikit rikuh ketika harus berboncengan dengan Tari, entah apa yang membuatku merasa demikian. Selama perjalanan kita mengobrol tentang keseharian kita. Tak terasa sampai juga di rumah Tari, dengan berbagai arahan dari Tari hingga sampai juga tepat di depan rumah Tari. Hari pertama bersama Tari pun berakhir dengan biasa saja, walau aku sedikit merasa rikuh dan entah bagaimana perasaan Tari saat itu.

Esoknya, pagi hari dan membosankan kembali kujalani di SMA yang tak pernah kuinginkan sebelumnya. Namun hari ini terasa berbeda ketika Tari mulai menyapaku ketika jam istirahat. “Man, ayo kita ke kantin. Temenin aku ya? Gak apa kan?”
“Hmm, ayo. Kebetulan aku juga mau sarapan.” Jawabku dengan sedikit nervous.
Selama perjalanan menuju kantin, kita hanya saling terdiam. Sesampai di kantin, kita hanya duduk berdua. Sembari menunggu pesanan datang Tari mulai mengajak ngobrol “Man, aku nomer HP kamu dong?”
“Waduh, jangan diminta Tar, ntar aku beli nomer HP baru donk?” jawabku dengan nada bercanda.
“Hahahaha... Bisa aja kamu Man, serius nih. Biar mudah aja kalau aku pengen nebeng kamu. Gak apa kan?” Kata Tari dengan nada merayu.
“Ini pesanannya” Kata pelayan kantin sambil meletakkan makanan dan minuman kita diatas meja tempat kami duduk.
“Man, ayo buruan kasih aku nomer HP kamu.” Tari sedikit memaksa kepadaku.
“Iya iya, buruan catet Tar. 089645504439, tuh buruan SMS ke nomerku, biar aku juga tau nomermu Tar.” Sambil ku teguk es teh yang telah ku pesan tadi.
Perasaan mulai tak karuan, gara-gara aku menganggap ada yang berbeda dengan perilaku Tari padaku jika dibanding cewek-cewek lainnya.
“Udah masukkan SMS ku Man? Tanya Tari sambari memakan makanan yang ia pesan tadi.

Selagi asyik makan berdua dan mengobrol, tak terasa bel masuk berbunyi. Aku dan Tari pun harus berpisah sejenak. Kita berbeda kelas, jadi tidak mungkin akan seharian bersama dia di Sekolah. Hari yang membosankanpun dimulai lagi didalam kelas berukuran 8 meter kali 7 meter. Ruang kelas ber-AC nampak nyaman sekali, namun tidak dengan hatiku yang tiba-tiba gundah karena selalu terbayang-bayang sosok Tari. Tiba-tiba HP ku bergetar. Memang biasanya aku sering mainan HP kalau lagi bosan didalam kelas. Namun tak kusangka, ternyata Tari yang SMS “Man, aku bosen nih dikelas, gurunya gak asyik. Jam segini udah dongengin tentang Sejarah Majapahit”. Aku kaget dan tak menyangka ternyata Tari berani SMS aku duluan. Tak mau lama-lama, aku langsung membalas SMS Tari “Iya Tar, aku juga bosan ini. Ke kantin yuk Tar?”. Tak lama kemudian tari membalas SMS ku “OK, buruan ya?? Uda bosen tingkat tinggi nih aku Man!!! Nih aku barusan uda ijin keluar ke UKS”. Aku pun langsung berpura-pura sakit perut dan minta ijin pada guruku. “Pak saya sakit perut, mau ijin ke kamar mandi dulu ya pak?” Sambil aku berakting sakit perut dan mengerang kesakitan laksana artis papan atas. Akhirnya guruku pun percaya dan malah menyarankan ke UKS saja.

Tari I’m Coming” teriakku dalam hati dengan gembira karena mampu kabur dari situasi kelas yang membosankan. Selepas dari ruangan yang nyaman aku pun bergegas menuju kantin dimana Tari pasti telah menungguku.
“Armaaan!!!” Teriak Tari yang memanggil namaku sambil melambaikan tangannya.
Tanpa menjawab, aku langsung mendatangi Tari dan duduk ditempat yang Tari tempati.
Kami pun mengobrol dan bersenda gurau melepas kebosanan yang kita rasakan di kelas masing-masing. Kata terakhir yang diucapakan Tari sebelum kembali masuk ke dalam kelas jam terakhir “Man, ntar aku nebeng lagi gak apa kan?”.
“Iya gak apa kok Tar” Jawabku dengan senang hati.

Sehabis jam pelajaran terakhir, aku segera bergegas menuju parkiran motor. Lama ku menunggu Tari hingga akhirnya terbitlah Sang Mentari yang menyanari hari-hariku beberapa hari ini. “Man, udah lama ya?” Tari bertanya dengan nafas yang terengah-engah. “Enggak kok Tar. Udah biasa menunggu kok” Jawabku dengan ketus.

Selama perjalanan kali ini, kita lebih banyak ngobrol tentang kepribadian kita masing-masing. Hal ini menjadi lampu hijau bagiku bahwa Tari memang benar-benar tertarik padaku walaupun aku tidak masuk dalam kategori cowok keren. Bayangin aja, wajahku saja tak setampan Andy Lau, dan badanku juga tak sekekar aktor yang bermain dalam film Rambo. Perawakanku malah mirip gentong. Namun satu hal yang kuyakini seperti kata Endank Soekamti.

Perut gendut tiada masalah
Tetap PD (sexy, banyak temannya) sudah biasa
Ku tak mau menyiksa diri
Olahraga takkan berguna
Kurang lebih begitulah sepenggal lirik lagu Endank Soekamti yang berjudul Pejantan Tambun.

Sesampai di depan rumah Tari, aku berniat langsung pulang. Tiba-tiba Tari berkata, “Man, masuk dulu sini lho. Jangan pulang dulu ya?”
“Gak apa ta? Yaudah deh” Jawabku, sambil memarkirkan motorku didepan garasi.

Sambil menunggu Tari ganti baju aku duduk diteras rumahnya. Tiba-tiba dia keluar membawa dua gelas minuman segar yang sudah kutunggu-tunggu mengingat panasnya kota ini. “Man, nih ku buatin minuman. Pasti kamu haus kan??” Tanya Tari sambil menaruh kedua gelas minuman di meja yang ada diteras rumahnya.
“Hehehehe, tau aja kamu Tar... Perhatian banget sih.” Jawabku sambil bercanda.
Setelah meneguk minuman, Tari menarik tanganku dan mengajak masuk ke dalam ruang tamu. Aku bingung dan sedikit malu ketika harus masuk rumah. “Eh... Tar diluar aja, disini gerah.” Sambil ku coba melepas genggaman tangan Tari. “Udah gak apa Man, disini aja lebih nyaman.”

Fine, gak apa deh emang lebih enak di ruang tamu soalnya gak panas”, hatiku berbicara. Di dalam ruang tamu kita ngobrolin kekonyolan di sekolah hingga masalah – masalah yang lebih pribadi.
“Aku bosan Man, terus-terusan ditinggalin cowokku. Dia sekarang sekolah di luar kota.” Kata Tari padaku dengan nada yang sangat sedih dan bingung harus berekspresi seperti apa.
Dengan muka bodoh dan kaget ternyata Tari sudah punya pacar. “ Namanaya juga pacaran, ya harus sabar dong Tar.“ Kujawab saja seakan aku tak menaruh rasa apa-apa pada Tari. Tari hanya bisa bilang “Iya  sih Man, tapi....”

Perbincangan itu membuat suasana sekejap menjadi hening. Tari hanya bisa memandangku yang sudah mencoba memberi pengertian padanya. Aku berpikir, “apa aku salah bicara? Oh, jelas gak lah.” Tiba-tiba bibir manis Tari menempel di bibirku yang kering, karena memang pada siang itu suhu udaranya seakan mirip suhu udara di Gurun Sahara. Aku cuma bisa diam dan tak berdaya karena detak jantungku meningkat karena ciuman Tari yang tanpa permisi mendarat di bibirku.

Kemudian tari menarik dari dan ciuman yang telah mendarat tadi dan berkata “Kenapa? Aku salah ya? Maaf deh gak begitu lagi.”
“Oh...gak apa kog Tar” Jawabku dengan kaki gemetar karena kaget dan masih gak percaya tentang apa yang Tari lakukan. “Ya gak apa Tar, gak ada yang salah kok, nanggung kalo cuma bentar” Ucapku dalam hati yang mulai senang dengan semua ini.

Tanpa keterpaksaan seperti diawal, dan kali ini Tari permisi dulu sebelum mendaratkan bibir manisnya. Aku pun tak mau hanya berdiam dan berlagak pasif seperti cewek yang pasrah ketika diperkosa sekelompok pemuda. Aku mulai mengerahkan kemampuanku, walau mungkin dalam hal cium-mencium aku masih kalah garang dibanding Tari yang tanpa kusadari dia berapa diatas pangkuanku. Kami pun larut dalam suasana cumbu di Gurun Sahara.

“krieeeeeeeek” Suara pintu terbuka. Tiba-tiba pintu terbuka dan ibu Tari keluar dari kamar. Gerak cepat menuju posisi semula dan seakan – akan kita tak sedang melakukan apapun.

#BERSAMBUNG#